PENDAHULUAN
Dalam mempelajari bionomi serangga vektor penyakit pengetahuan tentang pola makan adalah penting untuk memahami hubungan antara inang – vektor dan peran masing-masing dalam penularan penyakit. Untuk maksud tersebut telah digunakan berbagai teknik yang berbeda. Awalnya teknik tersebut digunakan untuk mempelajari peran berbagai spesies Anopheles dalam penularan malaria terutama dalam menentukan HBI (human blood index) masing-masing nyamuk vektor. Penggunaan teknik tersebut kemudian diperluas hingga pada penentuan peran lalat tse-tse dalam penularan organisme penyebab penyakit tidur di Afrika dan pada vektor penyakit arbovirus.
Paling tidak 4 metode telah digunakan untuk menentukan ragam kaitan antara inang
- vektor yakni observasi kasat mata (visual); ketertarikan terhadap perangkap umpan; karakteristik sitologis darah dan serologi. Metode pertama dari 4 metode tersebut sekarang sudah tidak digunakan lagi karena adanya keterbatasan. Sementara pendekatan secara serologis memberikan data yang lebih dapat dipercaya.
METODE SEROLOGIS
Metode serologis untuk mengidentifikasi pakan darah serangga ialah uji presipitin (precipitin test). Sejak diperkenalkannya metode ini oleh Nuttall (1904) dalam studi sistimatika mamalia dan adaptasinya yang dilakukan oleh Bull dan King (1923) sampai sekarang telah banyak dilakukan modifikasi teknik dasar metode tersebut untuk keperluan indentifikasi pakan darah nyamuk. Uji itu dibutuhkan peralatan yang sedikit dan relatif mudah dilakukan.
Lima prosedur dasar presipitin digunakan dalam studi inang-vektor. Dua diantaranya serupa dan mempunyai kepekaan yang setara. Uji cincin (ring test) merupakan uji presipitin yang paling sederhana karena hanya membutuhkan sebuah tabung uji kecil dimana darah yang belum diketahui sumber pakan darahnya secara hati-hati ditaruhkan di atas antiserum yang berada di dasar tabung. Terbentuknya cincin pemisah diantara dua reagent menunjukkan terjadinya reaksi positif. Pada prosedur lain, tabung uji diganti tabung kapiler dan reaksi positif ditunjukkan dengan adanya pemisah yang keruh diantara dua reagent.
Tiga prosedur presipitin lainnya yaitu agar gel diffusion; microplate dan gel surface precipitin test. Pada agar gel diffusion test pakan darah dan antiserum berdiffusi satu sama lain dan membentuk pita presipitin bila reaksinya positif. Teknik ini kurang peka dibanding uji cincin atau kapiler. Metode microplate hanya digunakan di laboratorium dan memiliki kelemahan/kekurangan karena dibutuhkan pakan darah dalam jumlah besar. Pada gel surface precipitin test antiserum dicampur dengan agar dan diletakkan di atas slide. Pakan darah yang telah tersedia diteteskan (1 – 3 ml) ke permukaan slide. Akan tetapi metode ini tidak tepat diaplikasikan untuk spesimen hasil koleksi lapangan.
Walaupun uji kapiler peka dan mudah dilakukan namun ekstrak pakan darah dari sejumlah serangga menjadi terbuang setelah 10 – 15 kali uji. Modifikasi metode CCIE (counter-current immunoelectrophoresis) presipitasi gel oleh Culliford (1964) diadaptasi untuk identifikasi pakan darah. Metode tersebut berdasar pada prinsip bahwa albumin pakan darah yang berada di sumuran katode akan pindah ke anode dengan adanya arus listrik, sementara immunoglobulin di sumuran anode akan keluar bergerak menuju katode oleh aliran endo-osmose melalui medium perantara. Antigen dan antibodi akan bertemu diantara kedua sumuran dalam waktu yang relatif pendek dan hasilnya berupa terbentuknya pita presipitin. Uji ini membutuhkan lebih sedikit material antigenik daripada uji kapiler dan tidak sulit dilakukan.
Akan tetapi dengan standard serologi sekarang, uji presipitin bukan sistem yang spesifik dan peka. Kepekaan menjadi berkurang manakala serangga yang diuji hanya mengisap darah dalam jumlah sangat sedikit dan uji ini tidak dapat membedakan pakan darah dari hewan yang sangat dekat kekerabatannya.
Untuk membedakan pakan darah dari hewan yang dekat kekerabatannya, Weitz (1956) mengadaptasi uji PHI (passive haemagglutination inhibition) untuk mengidentifikasi pakan darah pada lalat tse-tse. Uji tersebut di atas juga digunakan untuk culicoides dan nyamuk. Kepekaan uji tersebut hingga ketingkat genetik namun jarang digunakan dan merupakan uji yang sulit dibanding uji presipitin sehingga hanya digunakan sebagai pendukung uji presipitin.
Metode serologis lain yang digunakan untuk mengindentifikasi pakan darah serangga antara lain teknik flourescent antibody; kristalisasi hemoglobin; uji agglutinasi latex; uji fiksasi complement dan ELISA (enzym-linked immunosorbent assay). Untuk uji flourescent antibody dan aglutinasi latex tidak ada laporan perihal penggunaannya untuk kepentingan indentifikasi pakan darah spesimen yang dikoleksi dari lapangan. Uji flourescent antibody tampaknya tidak praktis sementara kelemahan yang paling besar pada uji aglutinasi latex ialah kurang peka dibanding uji presipitin. Sedang dua uji lainnya tidak mudah dilakukan seperti ELISA yang karena kepekaannya cukup tinggi dan dapat diotomatisasi maka mempunyai potensi cukup besar. Kepekaan dalam mengidentifikasi pakan darah dapat digunakan dan spesifikasinya hingga tingkat genetik. Dewasa ini hanya uji PHI yang terbukti mampu mengidentifikasi pakan darah dari genus sampai apesies.
PENGAMBILAN SAMPEL PAKAN DARAH
Ada 3 cara pengambilan sampel darah untuk analisis.
Metode pertama yang paling umum digunakan ialah apus (smear) pakan darah ke kertas saring, lalu diangin-anginkan agar kering sebelum dimasukkan ke dalam kantung plastik bertutup dan disimpan pada suhu minus 20ÂșC .
Metode kedua ialah memasukkan dan menyimpan serangga ke dalam kapsul gelatin. Cara ini sangat baik untuk keperluan pengiriman dan penyimpanan sebab bila digunakan kertas saring maka ada kemungkinan protein pakan darah yang penting akan hilang karena terabsorpsi kertas saring tersebut.
Metode ke tiga ialah menyimpan spesimen di dalam vial dan disimpan di dalam nitrogen cair.
BEBERAPA APLIKASI IDENTIFIKASI PAKAN DARAH
Hal penting dalam mempelajari penyakit tular vektor ialah mengetahui inang kesukaan vektor sebagai sumber pakan darahnya. Informasi yang didapat tersebut bila digabungkan dengan studi lain akan membantu pemahaman epidemiologi penyakit dan sangat membantu dalam menentukan strategi pengendalian.
Berkaitan dengan pola serangga menggigit inang ada 2 hal yang membutuhkan perhatian. Pertama yang ada hubungannya dengan sifat menggigit berulang kali yakni pakan darah diperoleh dari menggigit sebanyak 2 kali atau lebih, dimana gigitan terakhir dilakukan sebelum protein hasil pengisapan darah pertama cukup tercerna sehingga mencegah teridentifikasinya asal pakan darah. Hal lain yang masih berkaitan ialah faktor intrinsik dan ekstrinsik yang mempengaruhi vektor dalam pemilihan inang.
PENGAMBILAN DAN PENGIRIMAN SAMPEL PAKAN DARAH UNTUK IDENTIFIKASI
Untuk uji presipitin dengan sampel pakan darah yang diambil menggunakan kertas saring maka beberapa hal berikut harus diperhatikan:
Data yang harus dicantumkan
1.Lokasi/tempat koleksi
2.spesies nyamuk
3.hewan inang yang terdapat di lokasi koleksi
4.tanggal koleksi
Pengambilan dan pengiriman sampel
1.Tiap kertas saring dibagi menjadi 16 juring tiap juring untuk satu pakan darah
2.Tiap kertas saring dan juring diberi bernomor
3.Angin-anginkan kertas saring sebelum dikemas
4.Untuk pengiriman, antar kertas saring dilapisi kertas anti lemak (grease) untuk mencegah terkontaminasinya pakan darah
oleh : Drs. Hadi Suwasono, MS
Peneliti B2P2VRP Salatiga
Sumber:
Lim, P.K.C. Techniques and use of bloodmeal identification. Control of brugian filariasis. Proceeding of WHO Regional Seminar 1 – 5 July 1985.. WHO – IMR. Kuala Lumpur. 1986.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar