Blognya JQ Vector Salatiga

04 Februari 2008

SKEMA PENULARAN FILARIASIS


Berikut ini Gambar atau Skema Penularan Filariasis

F I L A R I A S I S

Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga memnjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas. Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas

WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020 (. Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan missal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahun. Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular : Di Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres yang dapat berperan sebagai vector penular penyakit kaki gajah.

Cara Penularan :
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil ( mikrofilaria ) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vector ) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.
Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3 ? 5 hari, Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit ; radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis) ; filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah ; pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

Diagnosis
Filariasis dapat ditegakkan secara Klinis ; yaitu bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda dan gejala akut ataupun kronis ; dengan pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu setempat, seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila dalam sediaan darah tebal ditemukan mikrofilaria. Pencegahan ; adalah dengan berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector ( mengurangi kontak dengan vector) misalnya dengan menggunakan kelambu bula akan sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk baker, mengoles kulit dengan obat anti nyamuk, atau dengan cara memberantas nyamuk ; dengan membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk ; membersihkan semak-semak disekitar rumah.

Pengobatan :
secara massal dilakukan didaeah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dikombinasikan dengan Albenzol sekali setahun selama 5 ? 10 tahun, untuk mencegah reaksi samping seperti demam, diberikan Parasetamol ; dosis obat untuk sekali minum adalah, DEC 6 mg/kg/berat badan, Albenzol 400 mg albenzol (1 tablet ) ; pengobatan missal dihentikan apabila Mf rate sudah mencapai < 1 % ; secara individual / selektif; dilakukan pada kasus klinis, baik stadium dini maupun stadium lanjut, jenis dan obat tergantung dari keadaan kasus.

Sumber Berita selengkapnya lihat : http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=32&id=3

24 Januari 2008

TEKNIK IDENTIFIKASI PAKAN DARAH DAN KEGUNAANNYA

PENDAHULUAN

Dalam mempelajari bionomi serangga vektor penyakit pengetahuan tentang pola makan adalah penting untuk memahami hubungan antara inang – vektor dan peran masing-masing dalam penularan penyakit. Untuk maksud tersebut telah digunakan berbagai teknik yang berbeda. Awalnya teknik tersebut digunakan untuk mempelajari peran berbagai spesies Anopheles dalam penularan malaria terutama dalam menentukan HBI (human blood index) masing-masing nyamuk vektor. Penggunaan teknik tersebut kemudian diperluas hingga pada penentuan peran lalat tse-tse dalam penularan organisme penyebab penyakit tidur di Afrika dan pada vektor penyakit arbovirus.
Paling tidak 4 metode telah digunakan untuk menentukan ragam kaitan antara inang
- vektor yakni observasi kasat mata (visual); ketertarikan terhadap perangkap umpan; karakteristik sitologis darah dan serologi. Metode pertama dari 4 metode tersebut sekarang sudah tidak digunakan lagi karena adanya keterbatasan. Sementara pendekatan secara serologis memberikan data yang lebih dapat dipercaya.

METODE SEROLOGIS
Metode serologis untuk mengidentifikasi pakan darah serangga ialah uji presipitin (precipitin test). Sejak diperkenalkannya metode ini oleh Nuttall (1904) dalam studi sistimatika mamalia dan adaptasinya yang dilakukan oleh Bull dan King (1923) sampai sekarang telah banyak dilakukan modifikasi teknik dasar metode tersebut untuk keperluan indentifikasi pakan darah nyamuk. Uji itu dibutuhkan peralatan yang sedikit dan relatif mudah dilakukan.
Lima prosedur dasar presipitin digunakan dalam studi inang-vektor. Dua diantaranya serupa dan mempunyai kepekaan yang setara. Uji cincin (ring test) merupakan uji presipitin yang paling sederhana karena hanya membutuhkan sebuah tabung uji kecil dimana darah yang belum diketahui sumber pakan darahnya secara hati-hati ditaruhkan di atas antiserum yang berada di dasar tabung. Terbentuknya cincin pemisah diantara dua reagent menunjukkan terjadinya reaksi positif. Pada prosedur lain, tabung uji diganti tabung kapiler dan reaksi positif ditunjukkan dengan adanya pemisah yang keruh diantara dua reagent.
Tiga prosedur presipitin lainnya yaitu agar gel diffusion; microplate dan gel surface precipitin test. Pada agar gel diffusion test pakan darah dan antiserum berdiffusi satu sama lain dan membentuk pita presipitin bila reaksinya positif. Teknik ini kurang peka dibanding uji cincin atau kapiler. Metode microplate hanya digunakan di laboratorium dan memiliki kelemahan/kekurangan karena dibutuhkan pakan darah dalam jumlah besar. Pada gel surface precipitin test antiserum dicampur dengan agar dan diletakkan di atas slide. Pakan darah yang telah tersedia diteteskan (1 – 3 ml) ke permukaan slide. Akan tetapi metode ini tidak tepat diaplikasikan untuk spesimen hasil koleksi lapangan.
Walaupun uji kapiler peka dan mudah dilakukan namun ekstrak pakan darah dari sejumlah serangga menjadi terbuang setelah 10 – 15 kali uji. Modifikasi metode CCIE (counter-current immunoelectrophoresis) presipitasi gel oleh Culliford (1964) diadaptasi untuk identifikasi pakan darah. Metode tersebut berdasar pada prinsip bahwa albumin pakan darah yang berada di sumuran katode akan pindah ke anode dengan adanya arus listrik, sementara immunoglobulin di sumuran anode akan keluar bergerak menuju katode oleh aliran endo-osmose melalui medium perantara. Antigen dan antibodi akan bertemu diantara kedua sumuran dalam waktu yang relatif pendek dan hasilnya berupa terbentuknya pita presipitin. Uji ini membutuhkan lebih sedikit material antigenik daripada uji kapiler dan tidak sulit dilakukan.
Akan tetapi dengan standard serologi sekarang, uji presipitin bukan sistem yang spesifik dan peka. Kepekaan menjadi berkurang manakala serangga yang diuji hanya mengisap darah dalam jumlah sangat sedikit dan uji ini tidak dapat membedakan pakan darah dari hewan yang sangat dekat kekerabatannya.
Untuk membedakan pakan darah dari hewan yang dekat kekerabatannya, Weitz (1956) mengadaptasi uji PHI (passive haemagglutination inhibition) untuk mengidentifikasi pakan darah pada lalat tse-tse. Uji tersebut di atas juga digunakan untuk culicoides dan nyamuk. Kepekaan uji tersebut hingga ketingkat genetik namun jarang digunakan dan merupakan uji yang sulit dibanding uji presipitin sehingga hanya digunakan sebagai pendukung uji presipitin.
Metode serologis lain yang digunakan untuk mengindentifikasi pakan darah serangga antara lain teknik flourescent antibody; kristalisasi hemoglobin; uji agglutinasi latex; uji fiksasi complement dan ELISA (enzym-linked immunosorbent assay). Untuk uji flourescent antibody dan aglutinasi latex tidak ada laporan perihal penggunaannya untuk kepentingan indentifikasi pakan darah spesimen yang dikoleksi dari lapangan. Uji flourescent antibody tampaknya tidak praktis sementara kelemahan yang paling besar pada uji aglutinasi latex ialah kurang peka dibanding uji presipitin. Sedang dua uji lainnya tidak mudah dilakukan seperti ELISA yang karena kepekaannya cukup tinggi dan dapat diotomatisasi maka mempunyai potensi cukup besar. Kepekaan dalam mengidentifikasi pakan darah dapat digunakan dan spesifikasinya hingga tingkat genetik. Dewasa ini hanya uji PHI yang terbukti mampu mengidentifikasi pakan darah dari genus sampai apesies.

PENGAMBILAN SAMPEL PAKAN DARAH
Ada 3 cara pengambilan sampel darah untuk analisis.
Metode pertama yang paling umum digunakan ialah apus (smear) pakan darah ke kertas saring, lalu diangin-anginkan agar kering sebelum dimasukkan ke dalam kantung plastik bertutup dan disimpan pada suhu minus 20ÂșC .
Metode kedua ialah memasukkan dan menyimpan serangga ke dalam kapsul gelatin. Cara ini sangat baik untuk keperluan pengiriman dan penyimpanan sebab bila digunakan kertas saring maka ada kemungkinan protein pakan darah yang penting akan hilang karena terabsorpsi kertas saring tersebut.
Metode ke tiga ialah menyimpan spesimen di dalam vial dan disimpan di dalam nitrogen cair.

BEBERAPA APLIKASI IDENTIFIKASI PAKAN DARAH
Hal penting dalam mempelajari penyakit tular vektor ialah mengetahui inang kesukaan vektor sebagai sumber pakan darahnya. Informasi yang didapat tersebut bila digabungkan dengan studi lain akan membantu pemahaman epidemiologi penyakit dan sangat membantu dalam menentukan strategi pengendalian.
Berkaitan dengan pola serangga menggigit inang ada 2 hal yang membutuhkan perhatian. Pertama yang ada hubungannya dengan sifat menggigit berulang kali yakni pakan darah diperoleh dari menggigit sebanyak 2 kali atau lebih, dimana gigitan terakhir dilakukan sebelum protein hasil pengisapan darah pertama cukup tercerna sehingga mencegah teridentifikasinya asal pakan darah. Hal lain yang masih berkaitan ialah faktor intrinsik dan ekstrinsik yang mempengaruhi vektor dalam pemilihan inang.

PENGAMBILAN DAN PENGIRIMAN SAMPEL PAKAN DARAH UNTUK IDENTIFIKASI
Untuk uji presipitin dengan sampel pakan darah yang diambil menggunakan kertas saring maka beberapa hal berikut harus diperhatikan:
Data yang harus dicantumkan
1.Lokasi/tempat koleksi
2.spesies nyamuk
3.hewan inang yang terdapat di lokasi koleksi
4.tanggal koleksi
Pengambilan dan pengiriman sampel
1.Tiap kertas saring dibagi menjadi 16 juring tiap juring untuk satu pakan darah
2.Tiap kertas saring dan juring diberi bernomor
3.Angin-anginkan kertas saring sebelum dikemas
4.Untuk pengiriman, antar kertas saring dilapisi kertas anti lemak (grease) untuk mencegah terkontaminasinya pakan darah

oleh : Drs. Hadi Suwasono, MS
Peneliti B2P2VRP Salatiga

Sumber:
Lim, P.K.C. Techniques and use of bloodmeal identification. Control of brugian filariasis. Proceeding of WHO Regional Seminar 1 – 5 July 1985.. WHO – IMR. Kuala Lumpur. 1986.

23 Januari 2008

PESTISIDA NABATI

RAMUAN PESTISIDA NABATI
1) Untuk Mengendalikan Hama secara Umum Bahan:
- Daun Mimba : 8 kg
- Lengkuas : 6 kg
- Serai : 6 kg
- Diterjen/Sabun Colek : 20 kg
- Air : 80 liter
Cara Membuat
- Daun mimba, lengkuas dan semi ditumbuk halus dicampur dengan diterjen/sabun colek
lalu tambahkan 20 liter air diaduk sampai merata. Direndam selama 24 jam kemudian
saring dengan kain halus. Larutan akhir encerkan dengan 60 liter air. Larutan tersebut
disemprotkan pads tanaman untuk luasan 1 hektar.
2) Untuk Mengendalikan Hama Trips pada Cabai
Bahan
- Daun Sirsak 50 - 100 lembar
- Deterjen/Sabun Colek 15 gr.
- Air 5 liter.
Cara Membuat
- Daun sirsak ditumbuk halus dicampur dengan 5 liter air.
- Direndam selama 24 jam, saying dengan kain halus.
- Setiap liter Iarutan dapat diencerkan dengan 10 - 15 liter air.
- Aplikasi dengan menyemprotkan larutan tersebut pada seluruh bagian tanaman yang
ada hamanya.
3) Ramuan untuk Mengendalikan Hama Belalang dan Ulat.
Bahan
- Daun Sirsak 50 lembar
- Daun Tembakau satu genggam
- Deterjen/Sabun Colek 20 gr.
- Air 20 liter.
Cara membuat
- Daun sirsak dan tembakau ditumbuk halus. Tambahkan deterjen/sabun colek aduk
dengan 20 liter air, endapkan 24 jam.
- Disaring dengan kain halus dan diencerkan dengan 50 - 60 liter air, aplikasi dengan cara
disemprotkan.
4) Ramuan untuk Mengendalikan" Hama Wereng Coklat, Penggerek Batang dan
Mematoda.
Bahan:
- Biji Mimba 50 gr.
- Alkohol 10 cc.
- Air 1 liter.
Cara membuat :
- Biji mimba ditumbuk halus dan diaduk dengan 10 cc alkohol, encerkan dengan 1 liter air,
endapkan selama 24 jam, wring dan dapat disemprotkan pada tanaman/serangga hama.
5) Ramuan untuk Mengendalikan Hama Tanaman Bawang Merah.
Bahan
- Daun Mimba 1 kg.
- Umbi Gadung Racun 2 buah.
- Deterjen/Sabun Colek sedikit.
- Air 20 liter.
Cara membuat
- Daun mimba dan umbi gadung ditumbuk halus, ditambah deterjen/sabun colek aduk
dengan 20 liter air, endapkan 24 jam, saring dan dapat disemprotkan pads tanaman.
Bahan
- Limbah daun tembakau 200 kg.
Cara membuat
- Dihancurkan/ditumbuk dihaluskan, cara aplikasi tumbuhan dan tembakau ditaburkan
bersama pemupukan untuk 1 hektar. Limbah dan tembakau itu baik untuk
mengendalikan penyakit karena jamur, bakteri dan mematoda.
6) Ramuan untuk Mengendalikan Tikus.
Bahan
- Umbi Gadung Racun 1 kg.
- Dedak padi. 10 kg.
- Tepung ikan 1 ons.
- Kemiri sedikit.
- Air sedikit.
Cara membuat:
- Umbi dikupas, dihaluskan, semua bahan dicampurkan tambah air dibuat pelet. Sebarkan
pelet dipematang sawah tempat tikus bersarang.

Kliping Perpustakaan B2P2VRP Salatiga

Penulis Koswara Wijaya, Ir.
LIPTAN-PESTISIDA.doc.

22 Januari 2008

DEMAM BERDARAH DENGUE

Apa itu DBD? Adalah demam disertai perdarahan bawah kulit selaput hidung dan lambung disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti.

Tanda-tanda DBD:
1. Mendadak panas tinggi selama 2 sampai 7 hari
2. Tampak bintik-bintik merah pada kulit.
3. Kadang-kadang terjadi pendarahan di hidung (mimisan).
4. Mungkin terjadi muntah atau berak darah.
5. Sering terasa nyeri di ulu hati.
6. Bila sudah parah, penderita gelisah. Tangan dan kakinya dingin
dan berkeringat.

Dalam beberapa hari saja keadaan penderita dapat menjadi parah, dan dapat menyebabkan kematian.
Tindakan yang harus dilakukan bila ada penderita DBD:
1. Pertolongan pertama yang penting memberi minum sebanyak mungkin.
2. Kompres dengan air es.
3. Beri obat turun panas.
4. Selanjutnya penderita segera dibawa ke dokter/Puskesmas yang terdekat untuk diperiksa.
Bila diduga terserang Demam Berdarah akan dikirim ke Rumah Sakit untuk dirawat.
5. Lapor segera ke Puskesmas / Sudin Kesehatan setempat dengan membawa surat dari
Rumah Sakit

Selanjutnya akan dilakukan tindakan penanggulangan di daerah rumah penderita dan sekitarnya, tanpa dipungut bayaran.
Cara penularan DBD: Anak yang sakit demam berdarah di dalam darahnya mengandung virus. Bila anak ini digigit nyamuk Aedes Aegypti maka bibit penyakit ikut terhisap masuk ke dalam tubuh nyamuk. Dan bila nyamuk tersebut menggigit anak lain (anak sehat), maka anak itu akan dapat ketularan penyakit ini.

Ciri-ciri nyamuk penyebab penyakit DBD (nyamuk Aedes aegypti):
1. Badan kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih.
2. Hidup di dalam dan di sekitar rumah.
3. Menggigit/menghisap darah pada siang hari.
4. Senang hinggap pada pakaian yang bergantungan dalam kamar.
5. Bersarang dan bertelur di genangan air jernih di dalam dan di sekitar rumah bukan di got/
comberan.
6. Di dalam rumah: bak mandi, tempayan, vas bunga, tempat minum burung, perangkap semut
dan lain-lain.

Di luar rumah: drum, tangki penampungan air, kaleng bekas, ban bekas, botol pecah, potongan bambu, tempurung kelapa, dan lain-lain.
Cara pencegahan DBD: Demam berdarah dapat dicegah dengan memberantas jentik-jentik nyamuk Demam Berdarah (Aedes Aegypi) dengan cara melakukan PSN (Pembersihan Sarang Nyamuk)

Upaya ini merupakan cara yang terbaik, ampuh, murah, mudah dan dapat dilakukan oleh masyarakat, dengan cara sebagai berikut:
1. Bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air (seperti : bak mandi / WC, drum, dan lain-lain)
sekurang-kurangnya seminggu sekali. Gantilah air di vas kembang, tempat minum burung,
perangkap semut dan lain-lain sekurang-kurangnya seminggu sekali.
2. Tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air, seperti tampayan, drum, dan lain-lain agar
nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di tempat itu.
3. Kubur atau buanglah pada tempatnya barang-barang bekas, seperti kaleng bekas, ban bekas,
botol-botol pecah, dan lain-lain yang dapat menampung air hujan, agar tidak menjadi tempat
berkembang biak nyamuk. Potongan bamboo, tempurung kelapa, dan lain-lain agar dibakar
bersama sampah lainnya.
4. Tutuplah lubang-lubang pagar pada pagar bambu dengan tanah atau adukan semen.
5. Lipatlah pakaian/kain yang bergantungan dalam kamar agar nyamuk tidak hinggap disitu.
6. Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau sulit dikuras, taburkan bubuk ABATE ke
dalam genangan air tersebut untuk membunuh jentik-jentik nyamuk. Ulangi hal ini setiap 2-3
bulan sekali.

Takaran penggunaan bubuk ABATE adalah sebagai berikut: Untuk 10 liter air cukup dengan 1 gram bubuk ABATE .

Contoh: Untuk 10 liter air, ABATE yang diperlukan = (100/10) x 1 gram = 10 gram ABATE. Untuk menakar ABATE digunakan sendok makan. Satu sendok makan peres berisi 10 gram ABATE. Bila memerlukan ABATE kurang dari 10 gram, maka dapat dilakukan sebagai berikut: # Ambil 1 sendok makan peres ABATE dan tuangkan pada selembar kertas # Lalu bagilah ABATE menjadi 2, 3, atau 4 bagian sesuai dengan takaran yang dibutuhkan Setelah dibubuhkan ABATE maka:
1. Selama 3 bulan bubuk ABATE dalam air tersebut mampu membunuh jentik Aedes Aegypti.
2. Selama 3 bulan bila tempat penampungan air tersebut akan dibersihkan/diganti airnya,
hendaknya jangan menyikat bagian dalam dinding tempat penampungan air tersebut.

Air yang telah dibubuhi ABATE dengan takaran yang benar, tidak membahayakan dan tetap aman bila air tersebut diminum.

Kliping Perpustakaan B2P2VRP Salatiga

Sumber : http://www.pikhospital.co.id/newest/hotnews2.htm

AWAS !!! Nyamuk Merajalela di Musim Hujan

PENYEBAB demam berdarah adalah nyamuk Aedes aegypti. Lalu bagaimana siklus hidup nyamuk ini sehingga membuat penyakit ini kembali merebak di berbagai daerah? Aedes aegypti merupakan nyamuk yang berada di permukiman.Nyamuk ini sangat erat hubungannya dengan keberadaan buatan manusia atau wadah-wadah (artificial container).

Peneliti dari Badan Litbangkes Puslitbang Ekologi Kesehatan Dr Supratman Sukowati mengungkapkan, spesies ini sebenarnya sama dengan siklus aedes yang lain. Jadi dimulai dari telur, larva, pupa hingga kemudian dewasa. Karena itu, spesies nyamuk yang lain yang masuk kelompok orthodiptera sering disebut metaformosis sempurna. Telur aedes aegypti setelah dikeluarkan dari induknya tidak langsung menetas, namun telur bisa mengalami dormansi (diawetkan). Bila kelembaban kurang, telur dapat menetas dalam waktu yang lama, bisa mencapai tiga bulan. Kalau lebih dari waktu tersebut, telur akan mengalami penurunan fekunditas (tidak mampu menetas lagi). Meskipun baru seminggu kalau kelembapan cukup tinggi di atas 70% dapat mengalami perkembangan embrio di dalam cangkang telur sendiri. ”Musim kemarau populasi densitas rendah karena tidak mendapatkan tempat untuk menetas. Sementara saat musim penghujan banyak terdapat genangan-genangan air sehingga nyamuk mendapatkan kelembapan yang tinggi sampai akhirnya menetas,” ujar Supratman kepada SINDO.

Musim penghujan seperti ini, populasi nyamuk akan meningkat dengan cepat. Pada waktu musim kering, telur tersebut diawetkan oleh alam karena situasi kering. Menurut dia, dari telur menetas sampai dewasa diperlukan waktu antara 8-0 hari tergantung temperatur. Kalau temperatur tinggi bisa mencapai delapan hari, sedangkan pada kondisi temperatur rendah bisa mencapai 10 hari.”Temperatur tinggi dalam perkembangannya memengaruhi percepatan metabolisme, sedangkan kelembapan akan memengaruhi pernapasan nyamuk, termasuk serangga,” ujar Supratman. Untuk program pemberantasan nyamuk, minimum satu kali seminggu wadah-wadah penampungan air dilakukan pengurasan. Hal ini akan memindahkan nyamuk ke saluran.Nyamuk aedes aegypti begitu masuk ke selokan air yang kotor atau air yang kontak dengan tanah akan mengalami pengurangan aktivitas dan daya hidup. Di dalam tanah mengandung bakteri yang peka dan biasa digunakan untuk pengendalian nyamuk. Supratman mengungkapkan, pemberantasan habitat nyamuk dapat dilakukan melalui beberapa cara,seperti penggunaan insektisida, pengendalian lingkungan, biologi serta partisipasi masyarakat.Sebagai contoh, insektisida dengan menggunakan obat-obatan tertentu agar nyamuk tidak mampu berkembang. Pengendalian lingkungan dengan membuang, menutup, dan menguras tempat-tempat air agar tidak menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk. Adapun faktor biologi dengan memelihara jenis ikan tertentu, seperti cupang sebagai predator nyamuk ”Partisipasi masyarakat juga diperlukan untuk melakukan PSN (Pembersihan Sumber Nyamuk),” kata Dra Shinta Msi, peneliti dari Badan Litbangkes Puslitbang Ekologi Kesehatan.(hendrati h)

Kliping Perpustakaan B2P2VRP Salatiga

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/kesehatan/nyamuk-merajalela-di-musim-hujan-3.html

PERKENALAN

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Salam Sehat

Hallo rekan-rekan, pada hari ini, Rabu 23 Januari 2008 saya mencoba membuat blog dengan blogspot dengan penuntun sebuah buku karya Bapak Ridwan Sanjaya yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, semoga beliau dapat melihat blog saya dan dapat memberi masukan, kritik, dan saran guna perbaikan blog ini di masa mendatang.

Saya bekerja di Perpustakaan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga, yang terletak di Jalan Hasanudin No.123 Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia, telp. 0298-327096, hp.081328022719, atau e-mail perpusb2p2vrp@litbang.depkes.go.id,

Untuk rekan-rekan yang mau bergabung dalam menulis tentang serangga (nyamuk, lalat, lipas) hewan mamalia seperti tikus atau penyakit-penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis, chikungunya, penyakit kecing tikus/leptospirosis, dapat bergabung di blog ini, oleh karena itu hati saya terketuk dan tergugah bagaimana caranya menyebarluaskan informasi, yang cepat, praktis, untuk dapat diketahui oleh masyarakat yang membutuhkan, dan kita bisa sharing informasi, semoga informasi-informasi yang saya sampaikan dapat bermanfaat dan berguna bagi yang membutuhkan.

Semoga dapat bermanfaat.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

JQ