Blognya JQ Vector Salatiga

22 Januari 2008

AWAS !!! Nyamuk Merajalela di Musim Hujan

PENYEBAB demam berdarah adalah nyamuk Aedes aegypti. Lalu bagaimana siklus hidup nyamuk ini sehingga membuat penyakit ini kembali merebak di berbagai daerah? Aedes aegypti merupakan nyamuk yang berada di permukiman.Nyamuk ini sangat erat hubungannya dengan keberadaan buatan manusia atau wadah-wadah (artificial container).

Peneliti dari Badan Litbangkes Puslitbang Ekologi Kesehatan Dr Supratman Sukowati mengungkapkan, spesies ini sebenarnya sama dengan siklus aedes yang lain. Jadi dimulai dari telur, larva, pupa hingga kemudian dewasa. Karena itu, spesies nyamuk yang lain yang masuk kelompok orthodiptera sering disebut metaformosis sempurna. Telur aedes aegypti setelah dikeluarkan dari induknya tidak langsung menetas, namun telur bisa mengalami dormansi (diawetkan). Bila kelembaban kurang, telur dapat menetas dalam waktu yang lama, bisa mencapai tiga bulan. Kalau lebih dari waktu tersebut, telur akan mengalami penurunan fekunditas (tidak mampu menetas lagi). Meskipun baru seminggu kalau kelembapan cukup tinggi di atas 70% dapat mengalami perkembangan embrio di dalam cangkang telur sendiri. ”Musim kemarau populasi densitas rendah karena tidak mendapatkan tempat untuk menetas. Sementara saat musim penghujan banyak terdapat genangan-genangan air sehingga nyamuk mendapatkan kelembapan yang tinggi sampai akhirnya menetas,” ujar Supratman kepada SINDO.

Musim penghujan seperti ini, populasi nyamuk akan meningkat dengan cepat. Pada waktu musim kering, telur tersebut diawetkan oleh alam karena situasi kering. Menurut dia, dari telur menetas sampai dewasa diperlukan waktu antara 8-0 hari tergantung temperatur. Kalau temperatur tinggi bisa mencapai delapan hari, sedangkan pada kondisi temperatur rendah bisa mencapai 10 hari.”Temperatur tinggi dalam perkembangannya memengaruhi percepatan metabolisme, sedangkan kelembapan akan memengaruhi pernapasan nyamuk, termasuk serangga,” ujar Supratman. Untuk program pemberantasan nyamuk, minimum satu kali seminggu wadah-wadah penampungan air dilakukan pengurasan. Hal ini akan memindahkan nyamuk ke saluran.Nyamuk aedes aegypti begitu masuk ke selokan air yang kotor atau air yang kontak dengan tanah akan mengalami pengurangan aktivitas dan daya hidup. Di dalam tanah mengandung bakteri yang peka dan biasa digunakan untuk pengendalian nyamuk. Supratman mengungkapkan, pemberantasan habitat nyamuk dapat dilakukan melalui beberapa cara,seperti penggunaan insektisida, pengendalian lingkungan, biologi serta partisipasi masyarakat.Sebagai contoh, insektisida dengan menggunakan obat-obatan tertentu agar nyamuk tidak mampu berkembang. Pengendalian lingkungan dengan membuang, menutup, dan menguras tempat-tempat air agar tidak menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk. Adapun faktor biologi dengan memelihara jenis ikan tertentu, seperti cupang sebagai predator nyamuk ”Partisipasi masyarakat juga diperlukan untuk melakukan PSN (Pembersihan Sumber Nyamuk),” kata Dra Shinta Msi, peneliti dari Badan Litbangkes Puslitbang Ekologi Kesehatan.(hendrati h)

Kliping Perpustakaan B2P2VRP Salatiga

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/kesehatan/nyamuk-merajalela-di-musim-hujan-3.html

Tidak ada komentar: